Aku tak akan bercerita mengenai cinta kali ini.
Tetapi mengenalmu begitu menyenangkan sehingga aku takut untuk mencintaimu
dan jatuh untuk kesekian kalinya.
Aku tak juga ingin menceritakan tentang apapun tentang kesedihanku yang berakhir tragis.
Mengingatmu dengan semua kejelekannmu dan melupakan semua kebaikanmu, maafkan aku karena begitu mendendam.
Aku tak ingin melakukannya untukmu.
Ketika dirimu membaca ini, aku ingin kau tau untuk bersabarlah.
Semoga keberuntungan ada pada kita, dan akan aku tuliskan kisah cinta kita.
Tak lagi akan jatuh, karena kita akan berpegang satu sama lain.
yang memikirkanmu, abel.
kanvas yang digambar dalam goresan kebohongan, cat penyesalan atau terkadang arsiran cinta.
Minggu, 14 Agustus 2016
Senin, 04 Juli 2016
Kau ini manusia sayang
Aku cukup mengerti. Ternyata Tuhan memang menyayangiku dengan baik.
Begitu hinanya dirimu dikoyak kesenangan dan kemunafikkan.
Menangislah sebisamu.
Atau kau hanya bersandiwara sayang?
Sekarang. Kau juga minta di kasihani??
Kau sudah tak punya tempat berlindung?? Cukup memalukkan.
Berdiri angkuh, tapi kau tak cukup tangguh.
Pergilah, aku tak dapat membantumu.
Minggu, 19 Juni 2016
hani, tya kangen!
Tya: "Ketika jatuh dari cinta yang terus dilakukan adalah meresapi kalimat cengeng untuk mencari kebenaran atas rasa sakit dan terus mengumpat untuk membenahi rasa sesal."
Hani: "Cinta. Ketika kita masuk ke dimensi itu, sudah semestinya kita tidak akan memberi tahu seberapa sakitnya kita dibuatnya. Cinta."
Tya: "Cinta bak tuhan yang maha kuat membolak-balikkan rasa. mungkin jujur dan tangis dalam doa yang dapat menguatkan hati manusia. Begitulah kuasa cinta."
Hani: "Bila diamku saja sudah berarti mencintaimu, maka tak perlu kamu meminta aku untuk terus mengucapkannya."
Tya: "Semudah kata dihapus dan terlupa. cinta bukan soal berkata, atau menjelaskan tapi bagaimana cinta menjelma sebagai jiwa. Mati bila ditakdirkan mati."
Hani: "Banyak luka yang aku biarkan sembuh dengan sendirinya. Kamu tak perlu datang lagi jika untuk sekedar bertanya aku perlu obat apa."
Tya: "Kau adalah luka baruku, sekarang. bersarang menahun."
Hani: "Cinta. Ketika kita masuk ke dimensi itu, sudah semestinya kita tidak akan memberi tahu seberapa sakitnya kita dibuatnya. Cinta."
Tya: "Cinta bak tuhan yang maha kuat membolak-balikkan rasa. mungkin jujur dan tangis dalam doa yang dapat menguatkan hati manusia. Begitulah kuasa cinta."
Hani: "Bila diamku saja sudah berarti mencintaimu, maka tak perlu kamu meminta aku untuk terus mengucapkannya."
Tya: "Semudah kata dihapus dan terlupa. cinta bukan soal berkata, atau menjelaskan tapi bagaimana cinta menjelma sebagai jiwa. Mati bila ditakdirkan mati."
Hani: "Banyak luka yang aku biarkan sembuh dengan sendirinya. Kamu tak perlu datang lagi jika untuk sekedar bertanya aku perlu obat apa."
Tya: "Kau adalah luka baruku, sekarang. bersarang menahun."
Sabtu, 18 Juni 2016
Datang saja, singgah juga tak apa.
Tetapi jangan lepas alas kakimu agar kau tau kau tak pantas di sini.
Kau mau aku buatkan kopi susu?
Tenang saja tak kutambahkan apapun.
Gulanya akan aku pisahkan juga, mungkin kau butuh rasa manis yang berlebih.
Sudah kau minum? Bagaimana kopi susu buatanku? Habiskanlah.
Aku ada janji, boleh aku pergi?
Kamis, 26 Mei 2016
Aku terus di hantui "hutang" karena kau telah mencintaiku
Aku tak memberi kau apa-apa, aku paham. Kau memberi waktu, keringat, dan uang serta jam mahal. Aku? Tak punya.
Kau mengakhiri "kita"
Tak perduli kau sedang gusar
Kau cukup gegabah, dan aku cukup penurut.
Sekarang kau terus ngomel minta untuk di kasihani karena usahamu telah mencintaiku kepadaku dan siapapun yg membaca apapun yg kau upload.
Kau seperti di campakkan?
Padahal kau yg memberi titik di akhir kalimat.
Sabtu, 12 Maret 2016
aku tersesat di dalam labirin
terhimpit di lembaran insang
dan terlelap di ambang kerapuhan
berkelana dan merana
sepi lalu mati.......
bukan perkara arti dari mencintai sebuah cinta tetapi bagaimana cinta lahir pada dirinya dan sebaliknya, selanjutnya mencintai dapat dijadikan sebagai sebuah titik.
disudahi atau ditambah dengan kalimat-kalimat dalam paragraf yang baru nantinya.
kau bukan tanaman rambat yang menutupi dinding labirin atau lendir-lendir yang lengket di insang apalagi menjadi seseorang yang akan aku benci karena kau akan menyakitiku.
aku sungguh menginginkanmu sejak beberapa hari lalu.
keinginanku cukup nekat kali ini.
merindukanmu sudah cukup membuat tangan, kaki serta kulit kepala memerah karena gatal dan gemas.
aku berniat untuk membangun rumah dengan halaman yang tak usah besar tetapi cukup nyaman untuk menghabiskan "black tea" di dalam satu teko keramik sambil bercerita dan sesekali matamu melirik untuk berkata "berhentilah merokok!"
mau kah?
aku juga akan belajar memasak, dan menunggumu pulang untuk menaruh letih diatas meja makan! aku juga tak mau kalah untuk dapat di manja olehmu dengan upah aku akan memijatmu walaupun tak sebanding dengan memijit badan yang keras seperti badanmu.
mau kah?
aku mau tidur.
aku merindukanmu.
Kamis, 03 Maret 2016
Pagi yang menderita, pagi yang merindu, serta pagi yang teraniaya.
Tetap terjaga menunggu matahari dan aku telah mencinta.
Kau bagai hadiah yang diberikan tiga hari sebelum hari ulang tahun. Aku harus menunggu dan tak boleh mengintip untuk mengetahui "apakah dirimu?". Begitu menyiksa.
Aku masih ingat bau rambutmu, seperti aku sentuh pita yang di ikatkan pada kotak hadiah ini yang masih tak boleh di buka. Mungkin kau jg tak mengingat seberapa putih kulitku atau bagaimana aku memandangi matamu.
3 hari waktu untuk membuka hadiah ini adalah kekacauan. Aku sungguh ingin memilikimu.
Langganan:
Postingan (Atom)