Aku duduk di warung pasta bertema italia.
Bunga kuning seberang meja bergoyang mendengar angin.
Aroma bumbu dari dapur yang tak jauh dari tempat aku duduk.
Segelas lemon tea menyegarkan tenggorokan yang kering.
Sepiring besar carbonara siap disantap habis. Selamat makan
kanvas yang digambar dalam goresan kebohongan, cat penyesalan atau terkadang arsiran cinta.
Sabtu, 26 April 2014
Selasa, 22 April 2014
Kakiku lelah untuk menopang kegelisahan,
Tapi aku tak bisa berjalan lagi.
Otakku tak ingin di sumpel kata semangat,
Tapi aku tak dapat berhenti.
Berlari melawan angin, aku akan kalah.
Berjalan bersama angin, aku akan tinggi.
Tapi kenyataan tak perlu angin untuk menegakkan badan ini untuk tetap bergerak.
Aku hanya memerlukan hujan untuk menyamarkan air mata yang jatuh.
Setelah puas, aku berganti baju dan mengulang kebenaran.
Tapi aku tak bisa berjalan lagi.
Otakku tak ingin di sumpel kata semangat,
Tapi aku tak dapat berhenti.
Berlari melawan angin, aku akan kalah.
Berjalan bersama angin, aku akan tinggi.
Tapi kenyataan tak perlu angin untuk menegakkan badan ini untuk tetap bergerak.
Aku hanya memerlukan hujan untuk menyamarkan air mata yang jatuh.
Setelah puas, aku berganti baju dan mengulang kebenaran.
Senin, 07 April 2014
Suatu malam aku hanya ingin berdiam.
Menaruh kepala di atas tumpukan buku.
Mengunci semua lubang agar tak ada seorang yang menanyaiku.
Aku berada didalam rumah semut sekarang.
Aku bisa menangis dan berteriak selantang pengeras suara mesjid ditengah kampusku.
Tapi aku tak ada alasan untuk menangis, merengek dan mencaci. Jangan tanya lagi. Aku hanya ingin itu.
Sudahlah...... tinggalkan aku pada suatu malam kesedihanku.
Lekaslah tidur dan kembali pada esok pagi.
Agar aku tak ada celah menyakitimu di malamnya dan menyesal di paginya.
Menaruh kepala di atas tumpukan buku.
Mengunci semua lubang agar tak ada seorang yang menanyaiku.
Aku berada didalam rumah semut sekarang.
Aku bisa menangis dan berteriak selantang pengeras suara mesjid ditengah kampusku.
Tapi aku tak ada alasan untuk menangis, merengek dan mencaci. Jangan tanya lagi. Aku hanya ingin itu.
Sudahlah...... tinggalkan aku pada suatu malam kesedihanku.
Lekaslah tidur dan kembali pada esok pagi.
Agar aku tak ada celah menyakitimu di malamnya dan menyesal di paginya.
Langganan:
Postingan (Atom)