Sabtu, 29 Agustus 2015

Untuk kakanda.

Malamku sirna
Pagiku pun hina
Sepanjang hari terasa tak bermuka
Mungkin hingga akhir dunia
Maafkan aku yg telah berdusta, kakanda.

Jumat, 28 Agustus 2015

Yang kutahu mencintai seseorang itu mudah dan murah.
Tetapi tidak murahan seperti baju akhir tahun yg di bandrol dengan harga yg miring.

Walaupun semurah itu, tapi mencintai membutuhkan perasaan yang berlimpah.
Dan kau masih bilang cinta itu sangat mudah?
Bunuh saja aku!
Karena mencintai sungguh begitu rumit untuk sekarang ini.

Selasa, 25 Agustus 2015

Kesalku
Marahku
Rinduku
Sayangku
Menyatu padu
Padamu

Sabtu, 22 Agustus 2015

Aku mengikuti arah angin.
Sampai aku siap untuk menentukan kemana aku akan pergi.

Kamis, 20 Agustus 2015

Aku sedang memelukmu
dari jauh
Aku pasti akan melakukannya.
Walaupun dari kejauhan.

Ketika ku buka mataku
Ternyata kau tepat dibelakangku.
Ikut memelukku,
Dari kejauhan.

Rabu, 19 Agustus 2015

Aku berada di sebuah stasiun kota dan baru saja remaja memakai kacamata-rambut lurus hitam melewatiku yang terburu-buru masuk kereta dengan tujuan jakarta.

Lagipula sepasang-kulit-putih bukan pribumi ini duduk di-ketiga-depanku dan langsung dapat kupandangi mereka menciumi leher pasangannya tersebut. 

Mulai iri berlagak risih kualihkan pandanganku menuju orang-orang yg sedang berdiri menunggu kedatangan kereta di jalur 5.

Yak, masih sama. Malam ini banyak sekali bule-bule dengan keril besar sedang bercumbu mesra.

Jangan salah sangka. Aku tak bermaksud membahas tentang percumbuannya. Tapi ya dicumbu mencumbu tetap masuk di dalamnya.

Oke, ini sumpah serapahku. Seakan menguatkan diri. Perjalananku nanti akan juga seasik itu.

Minggu, 16 Agustus 2015

Iyaaa tak mengapa.
Ini sekedar garam,
Kalo beruntung ini akan terasa gurih
Jeleknya ya keasinan

Dibuang atau tetap dimakan

Rabu, 12 Agustus 2015

Aku adalah wanita yg berkawan tembok. Tembok kini bagai kanvas dan kertas yang diperawani untuk mengabadikan "kelucuan" kita.

Minggu, 09 Agustus 2015

Dirimu adalah api yang merubahku-kayu menjadi arang lalu rapuh.
Seminggu kemudian, dirimu juga air yang merubahku menjadi padam ketika terbakar.

Bagai sesal dan semangat.
Aku tidak tahu cara mengakhiri apa yang telah aku mulai hampir sebulan yang lalu.
Aku masih mencintaimu, di hari ke 28.

Jumat, 07 Agustus 2015

Aku mencintaimu, aku tekankan kepadamu sekali lagi.
Dan aku memaksamu untuk tetap bersamaku selamanya. Titik.

Rabu, 05 Agustus 2015

Senja ini rinduku menumpuk. "Senandung rindu" yang diputar berkali-kali juga tak mengurangi apapun.


Ya begitu, mawarmu telah melayu.

Selasa, 04 Agustus 2015

Sore ini aku masih mencintaimu. Hehe

Senin, 03 Agustus 2015

Rasa yang ditiupkan Tuhan kepada hawa dan adam. Dan menjadi seniman adalah keahlian baru.

Sang adam bagai Ludwig van Beethoven yang dengan indahnya mengkompos lagu. Tak kalah juga dengan hawa bak djenar mahesa ayu atau dewi lestari yang jarinya menari diatas kertas dan kanvas lainnya.


Aku mencintaimu di dunia ini. Semoga saja kita juga dipertemukan di syurga, dam. Hehe

Sabtu, 01 Agustus 2015

Halo lagi,
Baru ku tutup 5 menit bahkan tak sampai. Tanganku gatal, otakku merangkai kata, hatiku tak tenang. Akan kutuliskan secara sesingkat-singkatnya. Begini isinya:


Aku sedang mengeluh. Dan memaki. Mungkin darah ditubuhku berjalan menuju otak. Dan kemungkinan 80% akan terkena penyakit darah tinggi.
Bak ranting dipatahkan angin.
Sepanjang pengalaman mendengar-menyaksikan-mengalami ya walaupun aku tak mahir "bercinta" aku yakin kau telah melanggar hakku untuk merasa bebas. Bebas mencintaimu dan bebas mencintai diriku sendiri.

Aku bukan cuma harus memikirkanmu tapi juga memikirkan diri sendiri sebagai orang yang mencintaimu dan membanggakanmu.


23:03 malam minggu pertama bulan agustus 2015