Sabtu, 12 Maret 2016

aku tersesat di dalam labirin
terhimpit di lembaran insang
dan terlelap di ambang kerapuhan

berkelana dan merana
sepi lalu mati.......


bukan perkara arti dari mencintai sebuah cinta tetapi bagaimana cinta lahir pada dirinya dan sebaliknya, selanjutnya mencintai dapat dijadikan sebagai sebuah titik.
disudahi atau ditambah dengan kalimat-kalimat dalam paragraf yang baru nantinya.

kau bukan tanaman rambat yang menutupi dinding labirin atau lendir-lendir yang lengket di insang apalagi menjadi seseorang yang akan aku benci karena kau akan menyakitiku.
aku sungguh menginginkanmu sejak beberapa hari lalu.
keinginanku cukup nekat kali ini.
merindukanmu sudah cukup membuat tangan, kaki serta kulit kepala memerah karena gatal dan gemas.

aku berniat untuk membangun rumah dengan halaman yang tak usah besar tetapi cukup nyaman untuk menghabiskan "black tea" di dalam satu teko keramik sambil bercerita dan sesekali matamu melirik untuk berkata "berhentilah merokok!"

mau kah?

aku juga akan belajar memasak, dan menunggumu pulang untuk menaruh letih diatas meja makan! aku juga tak mau kalah untuk dapat di manja olehmu dengan upah aku akan memijatmu walaupun tak sebanding dengan memijit badan yang keras seperti badanmu.

mau kah?



aku mau tidur.
aku merindukanmu.




Kamis, 03 Maret 2016

Pagi yang menderita, pagi yang merindu, serta pagi yang teraniaya.

Tetap terjaga menunggu matahari dan aku telah mencinta.
Kau bagai hadiah yang diberikan tiga hari sebelum hari ulang tahun. Aku harus menunggu dan tak boleh mengintip untuk mengetahui "apakah dirimu?". Begitu menyiksa.

Aku masih ingat bau rambutmu, seperti aku sentuh pita yang di ikatkan pada kotak hadiah ini yang masih tak boleh di buka. Mungkin kau jg tak mengingat seberapa putih kulitku atau bagaimana aku memandangi matamu. 

3 hari waktu untuk membuka hadiah ini adalah kekacauan. Aku sungguh ingin memilikimu.