dahulu ku maki seperti kerasukan, berbicara tanpa otak
kemarahan menutupi hati dan dendam kepadanya
tak ingin dan enggan mengerti hati yang tersakiti
menangis seakan kebenaran selalu di pihakku
menjerit dan meminta keadilan seakan dilanda kesialan
ingin mencaci dan terus menggerutu dan melepaskannya
tetapi.......
benalu yang hinggap dulu seakan menjadi benih
benih kasih sayang dan tak ingin mereka terluka
air mata yang jatuh bukan ingin meminta keadilanku,
tetapi memastikan keadilan buat mereka.
seribu kata maaf terucap untuk mewakiliku
tangisan dan kebusukan jatuh entah-berantah
untuk membalas semua durhaku terdahulu
aku mampu untuk berikrar,
ambillah kebahagiaanku untuk mereka, Tuhan.
aku rela dan hanya ingin mengahabiskan waktuku,
hanya untuk melihat mereka bahagia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar